Kamis, 29 Januari 2015

Semua Telah Berbeda

Aku sudah lama mengenalmu
Bahkan aku mengerti betul bagaimana sifatmu
Kau yang sangat baik, sabar menghadapi sifat-sifatku, dan selalu menghadirkan kebahagiaan
Kau selalu memberiku semangat saat aku melewati ujian hidup

Sekarang hujan!
Sesuatu yang selalu menjadi topik kita
Sesuatu yang selalu membuat kita merasa tenang
Sesuatu yang selalu kita cari saat semua sudah tak berpihak pada kita

Rintikannya membangkitkan memori ingatanku
Tentangmu, kenangan kita, tawa kita, dan cerita kita
Dulu kita pernah menganggap jika hujan adalah perantara rasa rindu di antara kita
Dan benar, sekarang aku merindukanmu

Ke mana mimpi yang selama ini ingin kita wujudkan sama sama?
Sekarang aku tak pernah memimpikannya lagi
Di mana rasa saling rindu setiap kali menatap hujan?
Bahkan saat ini aku ingin menjadi hujan
Agar aku selalu menjadi menyirami gersangnya hatimu

Suasana dingin ini tak sebanding dengan dinginnya sikapmu sekarang
Begitu saja kau mengabaikan pesan singkatku
Aku rindu getaran di hati yang sering muncul karena kata-kata polosmu

Di mana sekarang aku harus mencari separuh hati yang telah hilang itu?
Aku harus berbuat apa agar semuanya terasa sama saat pertama kali kita bertemu?
Aku ingin kau kembali , tapi aku tak berani mengatakannya

Karena aku tahu semua sudah berbeda..

Sabtu, 03 Januari 2015

Bahagia Itu Sakit

Sekarang boleh aku bersedih? Boleh aku menangis?
Perbedaan itu terlalu menonjol, Tuhan. Semuanya menyerangku dari segala arah hingga aku tak mampu menerimanya. Segalanya berubah begitu cepat. Apa sesingkat ini aku menjalani skenarioMu yang masih membuatku dalam keadaan nyaman sampai pada akhirnya menimbulkan luka di hati? Mengapa ketika aku merasa bahagia lalu saat itu juga kesedihan menyerangku? Benarkan kalau bahagia dan sedih itu selalu sepaket?

Jumat, 02 Januari 2015

Aku Bahagia Melihatmu Bahagia

Setiap kali aku merebahkan badan di atas kasur tidur dan memandang langit-langit kamar, hanya rentetan kejadian bersama manusia aneh itu. Selalu. Aku tidak berusaha menepisnya justru aku membiarkan bayangan itu berputar-putar dalam ingatan. Aku masih ingat betul saat pertama kali kau memboncengku dengan motor Vixion hitammu, kau mengantarku pulang sampai di depan rumahku, aku juga masih ingat kau memboncengku dengan motor Ninja merahmu. Kala itu rintikan gerimis hujan mengiringi deru laju motormu. Saat itu hujan menjadi saksi bisu debar jantung yang kurasakan ketika memelukmu karena kau melaju terlalu kencang dengan alasan keburu deras takut aku sakit.

Kau tau? Sekarang aku menyadari sesuatu. Skenario sebenarnya adalah sejak saat itu aku mulai menyukai hujan. Kau yang menghadirkan kenyamanan setiap kali aku mendengar rintikannya. Aku selalu tenang saat melihat bulir-bulir airnya jatuh mengenai tanah yang basah.

Entah sekarang semuanya jauh berbeda. Malaikat yang selama ini aku banggakan karena dia selalu ada untukku, dia selalu menjagaku, mampu membuatku nyaman saat berada di dekatnya kini terasa jauh meninggalkanku. Kehidupanku terasa kosong tanpa kehadiranmu. Kau telah menemukan bidadarimu, kak. Kau telah bahagia bersamanya. Merpati yang dengan sabar mencari kehidupan setenang mungkin telah kehilangan sosok malaikat yang senantiasa melindunginya. Aku tidak bersedih, justru aku sangat bahagia. Bahagia karena melihatmu bahagia. Bahkan sebelumnya aku sudah berjanji untuk itu. Manusia berjiwa malaikat yang sudah kuanggap sebagai orang paling galau yang pernah kutemui kini mendapatkan kebahagiaannya. Kini kau lebih bisa melihat bahwa di dunia ini bukan hanya untuk numpang hidup. Kita butuh berjuang, dunia ini bukan hanya ada penderitaan tapi juga lebih banyak kebahagiaan. Kau ingat? Kau pernah mengajarkanku tentang ini, makanya aku bisa bicara seperti ini.

Kau pernah memberiku kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama orang yang kucintai, aku mengerti itu. Bukan berarti kau menjauhiku, hanya saja memberi kesempatan untuk membuat cerita. Kini aku akan membalas kebaikanmu itu. Aku tau, di dunia ini butuh yang namanya pengorbanan. Dan aku ikhlas kau menjalin kasih dan membuat sekian banyak cerita bersama orang yang kau cintai.

Selamat berbahagia, Malaikatku. Selamat mendapatkan dunia barumu, dunia yang lebih indah dari yang kau bayangkan. Aku bahagia melihatmu bahagia...

Kamis, 03 Juli 2014

Cinta Facebook

Namaku Ossy, aku adalah seorang gadis pecinta musik dan facebook atau sosial media yang lain. Kedua hal itu tidak pernah lepas dari kehidupanku. Musik yang setiap hari mengiringi hari-hariku, menjadi juru bicara hatiku yang sulit tuk diungkapkan melalui kata-kata, dan juga hanya musik yang membuat hidupku lebih nyaman dan asyik. “Music is my live” itulah jargon yang sering diucapkan untuk seorang pecinta musik. Aku suka musik pop yang suasananya tenang. Paling enak kalau didengar waktu hati sedang gelisah.

Facebook atau biasa disingkat FB. Jejaring sosial yang sudah tak asing lagi di telinga orang banyak. Seperti musik, hal yang satu ini benar-benar sudah mengendalikan otakku untuk mencandui jejaring sosial ini. Hampir setiap waktu aku membuka situs ini untuk melihat pemberitahuan dan kabar berita dari sebuah beranda di halaman facebookku. Semua hal yang kutahu, mengenal orang banyak, menjalin hubungan pertemanan dengan yang lain meskipun kita tidak terlalu kenal, dan situs ini juga bisa membuatku tau nama kakak kelas yang sebelumnya aku belum mengenali. Sebenarnya banyak fungsi positif dari fb. Tapi banyaknya orang yang menyalahgunakan situs ini saja, hampir sebagian orang berfikir bahwa banyak hal negatif di fb.

Hari ini aku menjelajahi situs ini dengan membuka suatu halaman yang di dalamnya banyak kata motivasi hidup yang bisa membangkitkan semangatku. Tiba-tiba saja bunyi “tuing” dari laptopku berbunyi menandakan ada pesan. Awalnya aku tidak tahu siapa itu, tapi daripada dikiranya teman sombong, ya aku balas saja. Memang begitu caraku menanggapi orang yang tidak dikenal, berusaha ramah kepada siapa pun, karena suatu saat kita juga akan butuh orang lain, siapapun itu. Dia tanya rumahku di mana, kelas berapa, namanya bener ini apa enggak. Yaa biasa lah seperti sewajarnya.

Perkenalan itu dimulai tanggal 16 Januari dalam sebuah pesan masuk di fb. Awalnya masih kaku, lama-lama tertarik juga ingin lebih mengenal dia. Panggil dengan panggilan yang sewajarnya di kalangan orang pacaran sudah biasa untuk kami. Namun semakin lama kami menjalani pertemanan ini, disetiap detik muncul rasa takut. Takut jika rasa yang hanya sebatas teman itu menjadi lebih dari sewajarnya. Tapi aku mencoba untuk melupakan pikiran yang semata hanya terlintas di benakku itu.

Hari demi hari berlalu, seiring dengan berjalannya waktu aku merasakan ada yang berbeda dengan dia.  Sikapnya, perkataannya, bahasanya bahkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah ia tanyakan muncul secara spontan dari tulisan yang kubaca. Padahal semua itu terang hanya di media fb, tidak pernah bertemu sebelumnya. Hari ini semua terasa beda.

Pagi ini seperti minggu sebelumnya, melangkah keluar rumah, berjalan pagi, olahraga pagi. Namun aku tidak sendiri, ada teman-teman dan orang yang dari dulu sudah berkali-kali menata hati juga sebagai motivator hidupku. Mungkin masih belum merasa, bahwa selama ini aku mengaguminya. Sudah biasa aku mencurahkan isi hatiku kepadanya. Selalu bersikap terbuka jika sedang bertatap muka dengannya. Begitu juga dengan hal yang sedang kurasakan. Masalah rasa takut yang selalu mengangguku.

“Kak, dalam sebuah pertemanan, apakah memanggil orang dengan panggilan yang berada di tingkat menengah bahkan hampir seperti orang pacaran itu wajar?” tanyaku memulai sebuah percakapan.

“Kalau menurut kakak wajar saja. Tidak ada salahnya. Namun jika salah satu mungkin kamu atau dia menganggap semua itu lebih dari sekedar teman itu yang masalah, apalagi tipe orang  yang susah untuk dijelaskan. Ada sendiri tantangannya.” jawabnya dengan serius dan sedikit tertawa.

Setelah mendengar pernyataan itu, seseorang yang langsung muncul di benakku dia. Seseorang yang selama ini menemaniku di media sosial yang terkenal di kalayak umum itu.

“Lahh kok tiba-tiba sudah merasa tau kalau aku yang sedang berada dalam pertanyaan itu?” tanyaku dengan mimik wajah heran.

“Lho siapa tau. Kan hanya sebagai perumpamaan. Kamu saja yang terlalu merasa. Dasar cewek perasa.” ejeknya sambil tertawa geli.

“Baiklah, aku mengaku. Ah, terserah.”  aku mengangkat sebelah tangan sebagai tanda menyerah dan dengan nada pasrah.

===================================================================

Kali ini hatiku merasa kesepian, resah, gelisah, galau. Penyakit anak muda. Memang beberapa hari ini aku sedang banyak masalah, yang belum bisa untuk diselesaikan. Salah satunya dengan anak yang satu itu. Dalam hal seperti ini yang terfikir justru dia. Ternyata ada benarnya juga sebuah kata-kata “jika seseorang memberikan perhatian padamu, jangan pernah bosan atau mengabaikannya. Karena suatu saat perhatian kecil itu akan kamu rindukan ketika kamu merasa kesepian.”

Tetap saja hanya dia yang menemani malamku, menghapuskan segala awan buram yang menyelimuti langit hatiku. Lama-lama rasa ini semakin pekat, tak bisa kurendam lagi. Sempat terfikir olehku untuk meninggalkan komunikasi ini. Namun jika kutinggalkan, bagaimana bila rasa itu benar-benar ada dan justru aku sendiri yang tenggelam dalam perasaan ini.

“Drrttt!!”

Bunyi getar handphoneku membangunkanku dari tidur lelapku. Baru kuingat semalam aku lelah karena terlalu banyak pekerjaan rumah yang harus segera kuselesaikan. Sebuah nama yang tertera di layar handphone, "Balya" . Sosok nama yang selama ini hadir dalam mimpiku. Pesan singkat ia tujukan untukku. Satu demi satu kata kubaca dan kupahami. Sampai mataku tertuju pada satu kalimat. "Maukah kau menjadi kekasihku?" sebuah kalimat yang sukses membuatku tercengang. Bagaimana bisa? Bertemu dan melihat wajahnya secara langsung saja belum pernah. Kenapa tiba-tiba ia menyatakan perasaannya seperti ini.

Aku bingung harus seperti apa. Logika berkata terima, namun hati membantahnya. Namun apa pun itu, sesuatu yang sudah menyangkut hati, aku harus tetap mengikuti kata hatiku. Karena hati selalu tau mana pilihan yang baik untuk diriku. Akhirnya kuputuskan untuk menolakknya, namun bukan sembarangan aku menolak, butuh bumbu pengertian agar setiap kataku tidak menyakiti hatinya.
===================================================================
Sudah hampir 5 bulan komunikasi kami terputus begitu saja. Semenjak peristiwa di pesan singkat itu, dia tidak lagi pernah menghubungiku. Akun facebooknya ketika kucari tidak kutemukan. Mungkin akunku di blokir dari pertemanannya. Ya, sudahlah. Semua keputusan itu jalan kita, entah itu baik atau buruk kita harus tetap menanggungnya.

"Sy, kita ketemu di tempat biasa, ya. Ada yang ingin aku ceritakan." ucap seorang gadis salah satu sahabatku. Dengan sigap aku segera berganti pakaian dan bergegas menuju tempat yang dimaksud Rina melalui handphone tadi.
===================================================================
"Apa? Kamu serius?" sontak aku kaget mendengar kalimat yang baru saja diucapkannya.
"Iya, benar. Aku menyesal sudah menerima dia." keluhnya dengan nada menyesal.
"Sudahlah. Tidak apa. Jadikan itu sebagai pelajaran. Lain kali jika belum tau asal usul orang, jangan mudah terpengaruh. Jadi, harus lebih hati-hati." ucapku seraya memeluk sahabatku itu
"Iya, terima kasih, Sy. Kamu sahabat terbaikku." tak terasa air matanya menetes hingga membasahi pundak lengan bajuku.
Tidak kusangka, seseorang yang dulu pernah mengisi kekosongan hatiku kini menyakiti sahabatku. Bagaimana mungkin? Oh Tuhan, dunia ini begitu sempit. Menuruti kata hati adalah suatu keputusan yang bijak, karena memang hati tidak akan pernah salah. Selama kau yakin dan sejalan dengan hatimu, ikuti. Jangan pernah meragukan keinginan hatimu.