Namaku Ossy, aku adalah seorang gadis pecinta musik dan facebook atau
sosial media yang lain. Kedua hal itu tidak pernah lepas dari
kehidupanku. Musik yang setiap hari mengiringi hari-hariku, menjadi juru
bicara hatiku yang sulit tuk diungkapkan melalui kata-kata, dan juga
hanya musik yang membuat hidupku lebih nyaman dan asyik. “Music is my
live” itulah jargon yang sering diucapkan untuk seorang pecinta musik.
Aku suka musik pop yang suasananya tenang. Paling enak kalau didengar
waktu hati sedang gelisah.
Facebook atau biasa disingkat FB. Jejaring sosial yang sudah tak asing lagi di telinga orang banyak. Seperti musik, hal yang satu ini benar-benar sudah mengendalikan otakku untuk mencandui jejaring sosial ini. Hampir setiap waktu aku membuka situs ini untuk melihat pemberitahuan dan kabar berita dari sebuah beranda di halaman facebookku. Semua hal yang kutahu, mengenal orang banyak, menjalin hubungan pertemanan dengan yang lain meskipun kita tidak terlalu kenal, dan situs ini juga bisa membuatku tau nama kakak kelas yang sebelumnya aku belum mengenali. Sebenarnya banyak fungsi positif dari fb. Tapi banyaknya orang yang menyalahgunakan situs ini saja, hampir sebagian orang berfikir bahwa banyak hal negatif di fb.
Hari ini aku menjelajahi situs ini dengan membuka suatu halaman yang di dalamnya banyak kata motivasi hidup yang bisa membangkitkan semangatku. Tiba-tiba saja bunyi “tuing” dari laptopku berbunyi menandakan ada pesan. Awalnya aku tidak tahu siapa itu, tapi daripada dikiranya teman sombong, ya aku balas saja. Memang begitu caraku menanggapi orang yang tidak dikenal, berusaha ramah kepada siapa pun, karena suatu saat kita juga akan butuh orang lain, siapapun itu. Dia tanya rumahku di mana, kelas berapa, namanya bener ini apa enggak. Yaa biasa lah seperti sewajarnya.
Perkenalan itu dimulai tanggal 16 Januari dalam sebuah pesan masuk di fb. Awalnya masih kaku, lama-lama tertarik juga ingin lebih mengenal dia. Panggil dengan panggilan yang sewajarnya di kalangan orang pacaran sudah biasa untuk kami. Namun semakin lama kami menjalani pertemanan ini, disetiap detik muncul rasa takut. Takut jika rasa yang hanya sebatas teman itu menjadi lebih dari sewajarnya. Tapi aku mencoba untuk melupakan pikiran yang semata hanya terlintas di benakku itu.
Hari demi hari berlalu, seiring dengan berjalannya waktu aku merasakan ada yang berbeda dengan dia. Sikapnya, perkataannya, bahasanya bahkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah ia tanyakan muncul secara spontan dari tulisan yang kubaca. Padahal semua itu terang hanya di media fb, tidak pernah bertemu sebelumnya. Hari ini semua terasa beda.
Pagi ini seperti minggu sebelumnya, melangkah keluar rumah, berjalan pagi, olahraga pagi. Namun aku tidak sendiri, ada teman-teman dan orang yang dari dulu sudah berkali-kali menata hati juga sebagai motivator hidupku. Mungkin masih belum merasa, bahwa selama ini aku mengaguminya. Sudah biasa aku mencurahkan isi hatiku kepadanya. Selalu bersikap terbuka jika sedang bertatap muka dengannya. Begitu juga dengan hal yang sedang kurasakan. Masalah rasa takut yang selalu mengangguku.
“Kak, dalam sebuah pertemanan, apakah memanggil orang dengan panggilan yang berada di tingkat menengah bahkan hampir seperti orang pacaran itu wajar?” tanyaku memulai sebuah percakapan.
“Kalau menurut kakak wajar saja. Tidak ada salahnya. Namun jika salah satu mungkin kamu atau dia menganggap semua itu lebih dari sekedar teman itu yang masalah, apalagi tipe orang yang susah untuk dijelaskan. Ada sendiri tantangannya.” jawabnya dengan serius dan sedikit tertawa.
Setelah mendengar pernyataan itu, seseorang yang langsung muncul di benakku dia. Seseorang yang selama ini menemaniku di media sosial yang terkenal di kalayak umum itu.
“Lahh kok tiba-tiba sudah merasa tau kalau aku yang sedang berada dalam pertanyaan itu?” tanyaku dengan mimik wajah heran.
“Lho siapa tau. Kan hanya sebagai perumpamaan. Kamu saja yang terlalu merasa. Dasar cewek perasa.” ejeknya sambil tertawa geli.
“Baiklah, aku mengaku. Ah, terserah.” aku mengangkat sebelah tangan sebagai tanda menyerah dan dengan nada pasrah.
===================================================================
Kali ini hatiku merasa kesepian, resah, gelisah, galau. Penyakit anak muda. Memang beberapa hari ini aku sedang banyak masalah, yang belum bisa untuk diselesaikan. Salah satunya dengan anak yang satu itu. Dalam hal seperti ini yang terfikir justru dia. Ternyata ada benarnya juga sebuah kata-kata “jika seseorang memberikan perhatian padamu, jangan pernah bosan atau mengabaikannya. Karena suatu saat perhatian kecil itu akan kamu rindukan ketika kamu merasa kesepian.”
Tetap saja hanya dia yang menemani malamku, menghapuskan segala awan buram yang menyelimuti langit hatiku. Lama-lama rasa ini semakin pekat, tak bisa kurendam lagi. Sempat terfikir olehku untuk meninggalkan komunikasi ini. Namun jika kutinggalkan, bagaimana bila rasa itu benar-benar ada dan justru aku sendiri yang tenggelam dalam perasaan ini.
“Drrttt!!”
Bunyi getar handphoneku membangunkanku dari tidur lelapku. Baru kuingat semalam aku lelah karena terlalu banyak pekerjaan rumah yang harus segera kuselesaikan. Sebuah nama yang tertera di layar handphone, "Balya" . Sosok nama yang selama ini hadir dalam mimpiku. Pesan singkat ia tujukan untukku. Satu demi satu kata kubaca dan kupahami. Sampai mataku tertuju pada satu kalimat. "Maukah kau menjadi kekasihku?" sebuah kalimat yang sukses membuatku tercengang. Bagaimana bisa? Bertemu dan melihat wajahnya secara langsung saja belum pernah. Kenapa tiba-tiba ia menyatakan perasaannya seperti ini.
Aku bingung harus seperti apa. Logika berkata terima, namun hati membantahnya. Namun apa pun itu, sesuatu yang sudah menyangkut hati, aku harus tetap mengikuti kata hatiku. Karena hati selalu tau mana pilihan yang baik untuk diriku. Akhirnya kuputuskan untuk menolakknya, namun bukan sembarangan aku menolak, butuh bumbu pengertian agar setiap kataku tidak menyakiti hatinya.
===================================================================
Sudah hampir 5 bulan komunikasi kami terputus begitu saja. Semenjak peristiwa di pesan singkat itu, dia tidak lagi pernah menghubungiku. Akun facebooknya ketika kucari tidak kutemukan. Mungkin akunku di blokir dari pertemanannya. Ya, sudahlah. Semua keputusan itu jalan kita, entah itu baik atau buruk kita harus tetap menanggungnya.
"Sy, kita ketemu di tempat biasa, ya. Ada yang ingin aku ceritakan." ucap seorang gadis salah satu sahabatku. Dengan sigap aku segera berganti pakaian dan bergegas menuju tempat yang dimaksud Rina melalui handphone tadi.
===================================================================
"Apa? Kamu serius?" sontak aku kaget mendengar kalimat yang baru saja diucapkannya.
"Iya, benar. Aku menyesal sudah menerima dia." keluhnya dengan nada menyesal.
"Sudahlah. Tidak apa. Jadikan itu sebagai pelajaran. Lain kali jika belum tau asal usul orang, jangan mudah terpengaruh. Jadi, harus lebih hati-hati." ucapku seraya memeluk sahabatku itu
"Iya, terima kasih, Sy. Kamu sahabat terbaikku." tak terasa air matanya menetes hingga membasahi pundak lengan bajuku.
Tidak kusangka, seseorang yang dulu pernah mengisi kekosongan hatiku kini menyakiti sahabatku. Bagaimana mungkin? Oh Tuhan, dunia ini begitu sempit. Menuruti kata hati adalah suatu keputusan yang bijak, karena memang hati tidak akan pernah salah. Selama kau yakin dan sejalan dengan hatimu, ikuti. Jangan pernah meragukan keinginan hatimu.
Facebook atau biasa disingkat FB. Jejaring sosial yang sudah tak asing lagi di telinga orang banyak. Seperti musik, hal yang satu ini benar-benar sudah mengendalikan otakku untuk mencandui jejaring sosial ini. Hampir setiap waktu aku membuka situs ini untuk melihat pemberitahuan dan kabar berita dari sebuah beranda di halaman facebookku. Semua hal yang kutahu, mengenal orang banyak, menjalin hubungan pertemanan dengan yang lain meskipun kita tidak terlalu kenal, dan situs ini juga bisa membuatku tau nama kakak kelas yang sebelumnya aku belum mengenali. Sebenarnya banyak fungsi positif dari fb. Tapi banyaknya orang yang menyalahgunakan situs ini saja, hampir sebagian orang berfikir bahwa banyak hal negatif di fb.
Hari ini aku menjelajahi situs ini dengan membuka suatu halaman yang di dalamnya banyak kata motivasi hidup yang bisa membangkitkan semangatku. Tiba-tiba saja bunyi “tuing” dari laptopku berbunyi menandakan ada pesan. Awalnya aku tidak tahu siapa itu, tapi daripada dikiranya teman sombong, ya aku balas saja. Memang begitu caraku menanggapi orang yang tidak dikenal, berusaha ramah kepada siapa pun, karena suatu saat kita juga akan butuh orang lain, siapapun itu. Dia tanya rumahku di mana, kelas berapa, namanya bener ini apa enggak. Yaa biasa lah seperti sewajarnya.
Perkenalan itu dimulai tanggal 16 Januari dalam sebuah pesan masuk di fb. Awalnya masih kaku, lama-lama tertarik juga ingin lebih mengenal dia. Panggil dengan panggilan yang sewajarnya di kalangan orang pacaran sudah biasa untuk kami. Namun semakin lama kami menjalani pertemanan ini, disetiap detik muncul rasa takut. Takut jika rasa yang hanya sebatas teman itu menjadi lebih dari sewajarnya. Tapi aku mencoba untuk melupakan pikiran yang semata hanya terlintas di benakku itu.
Hari demi hari berlalu, seiring dengan berjalannya waktu aku merasakan ada yang berbeda dengan dia. Sikapnya, perkataannya, bahasanya bahkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah ia tanyakan muncul secara spontan dari tulisan yang kubaca. Padahal semua itu terang hanya di media fb, tidak pernah bertemu sebelumnya. Hari ini semua terasa beda.
Pagi ini seperti minggu sebelumnya, melangkah keluar rumah, berjalan pagi, olahraga pagi. Namun aku tidak sendiri, ada teman-teman dan orang yang dari dulu sudah berkali-kali menata hati juga sebagai motivator hidupku. Mungkin masih belum merasa, bahwa selama ini aku mengaguminya. Sudah biasa aku mencurahkan isi hatiku kepadanya. Selalu bersikap terbuka jika sedang bertatap muka dengannya. Begitu juga dengan hal yang sedang kurasakan. Masalah rasa takut yang selalu mengangguku.
“Kak, dalam sebuah pertemanan, apakah memanggil orang dengan panggilan yang berada di tingkat menengah bahkan hampir seperti orang pacaran itu wajar?” tanyaku memulai sebuah percakapan.
“Kalau menurut kakak wajar saja. Tidak ada salahnya. Namun jika salah satu mungkin kamu atau dia menganggap semua itu lebih dari sekedar teman itu yang masalah, apalagi tipe orang yang susah untuk dijelaskan. Ada sendiri tantangannya.” jawabnya dengan serius dan sedikit tertawa.
Setelah mendengar pernyataan itu, seseorang yang langsung muncul di benakku dia. Seseorang yang selama ini menemaniku di media sosial yang terkenal di kalayak umum itu.
“Lahh kok tiba-tiba sudah merasa tau kalau aku yang sedang berada dalam pertanyaan itu?” tanyaku dengan mimik wajah heran.
“Lho siapa tau. Kan hanya sebagai perumpamaan. Kamu saja yang terlalu merasa. Dasar cewek perasa.” ejeknya sambil tertawa geli.
“Baiklah, aku mengaku. Ah, terserah.” aku mengangkat sebelah tangan sebagai tanda menyerah dan dengan nada pasrah.
===================================================================
Kali ini hatiku merasa kesepian, resah, gelisah, galau. Penyakit anak muda. Memang beberapa hari ini aku sedang banyak masalah, yang belum bisa untuk diselesaikan. Salah satunya dengan anak yang satu itu. Dalam hal seperti ini yang terfikir justru dia. Ternyata ada benarnya juga sebuah kata-kata “jika seseorang memberikan perhatian padamu, jangan pernah bosan atau mengabaikannya. Karena suatu saat perhatian kecil itu akan kamu rindukan ketika kamu merasa kesepian.”
Tetap saja hanya dia yang menemani malamku, menghapuskan segala awan buram yang menyelimuti langit hatiku. Lama-lama rasa ini semakin pekat, tak bisa kurendam lagi. Sempat terfikir olehku untuk meninggalkan komunikasi ini. Namun jika kutinggalkan, bagaimana bila rasa itu benar-benar ada dan justru aku sendiri yang tenggelam dalam perasaan ini.
“Drrttt!!”
Bunyi getar handphoneku membangunkanku dari tidur lelapku. Baru kuingat semalam aku lelah karena terlalu banyak pekerjaan rumah yang harus segera kuselesaikan. Sebuah nama yang tertera di layar handphone, "Balya" . Sosok nama yang selama ini hadir dalam mimpiku. Pesan singkat ia tujukan untukku. Satu demi satu kata kubaca dan kupahami. Sampai mataku tertuju pada satu kalimat. "Maukah kau menjadi kekasihku?" sebuah kalimat yang sukses membuatku tercengang. Bagaimana bisa? Bertemu dan melihat wajahnya secara langsung saja belum pernah. Kenapa tiba-tiba ia menyatakan perasaannya seperti ini.
Aku bingung harus seperti apa. Logika berkata terima, namun hati membantahnya. Namun apa pun itu, sesuatu yang sudah menyangkut hati, aku harus tetap mengikuti kata hatiku. Karena hati selalu tau mana pilihan yang baik untuk diriku. Akhirnya kuputuskan untuk menolakknya, namun bukan sembarangan aku menolak, butuh bumbu pengertian agar setiap kataku tidak menyakiti hatinya.
===================================================================
Sudah hampir 5 bulan komunikasi kami terputus begitu saja. Semenjak peristiwa di pesan singkat itu, dia tidak lagi pernah menghubungiku. Akun facebooknya ketika kucari tidak kutemukan. Mungkin akunku di blokir dari pertemanannya. Ya, sudahlah. Semua keputusan itu jalan kita, entah itu baik atau buruk kita harus tetap menanggungnya.
"Sy, kita ketemu di tempat biasa, ya. Ada yang ingin aku ceritakan." ucap seorang gadis salah satu sahabatku. Dengan sigap aku segera berganti pakaian dan bergegas menuju tempat yang dimaksud Rina melalui handphone tadi.
===================================================================
"Apa? Kamu serius?" sontak aku kaget mendengar kalimat yang baru saja diucapkannya.
"Iya, benar. Aku menyesal sudah menerima dia." keluhnya dengan nada menyesal.
"Sudahlah. Tidak apa. Jadikan itu sebagai pelajaran. Lain kali jika belum tau asal usul orang, jangan mudah terpengaruh. Jadi, harus lebih hati-hati." ucapku seraya memeluk sahabatku itu
"Iya, terima kasih, Sy. Kamu sahabat terbaikku." tak terasa air matanya menetes hingga membasahi pundak lengan bajuku.
Tidak kusangka, seseorang yang dulu pernah mengisi kekosongan hatiku kini menyakiti sahabatku. Bagaimana mungkin? Oh Tuhan, dunia ini begitu sempit. Menuruti kata hati adalah suatu keputusan yang bijak, karena memang hati tidak akan pernah salah. Selama kau yakin dan sejalan dengan hatimu, ikuti. Jangan pernah meragukan keinginan hatimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar