Jumat, 02 Januari 2015

Aku Bahagia Melihatmu Bahagia

Setiap kali aku merebahkan badan di atas kasur tidur dan memandang langit-langit kamar, hanya rentetan kejadian bersama manusia aneh itu. Selalu. Aku tidak berusaha menepisnya justru aku membiarkan bayangan itu berputar-putar dalam ingatan. Aku masih ingat betul saat pertama kali kau memboncengku dengan motor Vixion hitammu, kau mengantarku pulang sampai di depan rumahku, aku juga masih ingat kau memboncengku dengan motor Ninja merahmu. Kala itu rintikan gerimis hujan mengiringi deru laju motormu. Saat itu hujan menjadi saksi bisu debar jantung yang kurasakan ketika memelukmu karena kau melaju terlalu kencang dengan alasan keburu deras takut aku sakit.

Kau tau? Sekarang aku menyadari sesuatu. Skenario sebenarnya adalah sejak saat itu aku mulai menyukai hujan. Kau yang menghadirkan kenyamanan setiap kali aku mendengar rintikannya. Aku selalu tenang saat melihat bulir-bulir airnya jatuh mengenai tanah yang basah.

Entah sekarang semuanya jauh berbeda. Malaikat yang selama ini aku banggakan karena dia selalu ada untukku, dia selalu menjagaku, mampu membuatku nyaman saat berada di dekatnya kini terasa jauh meninggalkanku. Kehidupanku terasa kosong tanpa kehadiranmu. Kau telah menemukan bidadarimu, kak. Kau telah bahagia bersamanya. Merpati yang dengan sabar mencari kehidupan setenang mungkin telah kehilangan sosok malaikat yang senantiasa melindunginya. Aku tidak bersedih, justru aku sangat bahagia. Bahagia karena melihatmu bahagia. Bahkan sebelumnya aku sudah berjanji untuk itu. Manusia berjiwa malaikat yang sudah kuanggap sebagai orang paling galau yang pernah kutemui kini mendapatkan kebahagiaannya. Kini kau lebih bisa melihat bahwa di dunia ini bukan hanya untuk numpang hidup. Kita butuh berjuang, dunia ini bukan hanya ada penderitaan tapi juga lebih banyak kebahagiaan. Kau ingat? Kau pernah mengajarkanku tentang ini, makanya aku bisa bicara seperti ini.

Kau pernah memberiku kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama orang yang kucintai, aku mengerti itu. Bukan berarti kau menjauhiku, hanya saja memberi kesempatan untuk membuat cerita. Kini aku akan membalas kebaikanmu itu. Aku tau, di dunia ini butuh yang namanya pengorbanan. Dan aku ikhlas kau menjalin kasih dan membuat sekian banyak cerita bersama orang yang kau cintai.

Selamat berbahagia, Malaikatku. Selamat mendapatkan dunia barumu, dunia yang lebih indah dari yang kau bayangkan. Aku bahagia melihatmu bahagia...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar