Setiap kali aku merebahkan badan di atas
kasur tidur dan memandang langit-langit kamar, hanya rentetan kejadian bersama
manusia aneh itu. Selalu. Aku tidak berusaha menepisnya justru aku membiarkan
bayangan itu berputar-putar dalam ingatan. Aku masih ingat betul saat pertama
kali kau memboncengku dengan motor Vixion hitammu, kau mengantarku pulang
sampai di depan rumahku, aku juga masih ingat kau memboncengku dengan
motor Ninja merahmu. Kala itu rintikan gerimis hujan mengiringi deru laju motormu.
Saat itu hujan menjadi saksi bisu debar jantung yang kurasakan ketika
memelukmu karena kau melaju terlalu kencang dengan alasan keburu deras takut
aku sakit.
Kau tau? Sekarang aku menyadari sesuatu.
Skenario sebenarnya adalah sejak saat itu aku mulai menyukai hujan. Kau
yang menghadirkan kenyamanan setiap kali aku mendengar rintikannya. Aku selalu
tenang saat melihat bulir-bulir airnya jatuh mengenai tanah yang basah.
Entah sekarang semuanya jauh berbeda.
Malaikat yang selama ini aku banggakan karena dia selalu ada untukku, dia
selalu menjagaku, mampu membuatku nyaman saat berada di dekatnya kini
terasa jauh meninggalkanku. Kehidupanku terasa kosong tanpa kehadiranmu. Kau
telah menemukan bidadarimu, kak. Kau telah bahagia bersamanya. Merpati
yang dengan sabar mencari kehidupan setenang mungkin telah kehilangan
sosok malaikat yang senantiasa melindunginya. Aku tidak bersedih, justru aku
sangat bahagia. Bahagia karena melihatmu bahagia. Bahkan sebelumnya aku sudah
berjanji untuk itu. Manusia berjiwa malaikat yang sudah kuanggap sebagai orang
paling galau yang pernah kutemui kini mendapatkan kebahagiaannya. Kini kau
lebih bisa melihat bahwa di dunia ini bukan hanya untuk numpang hidup. Kita butuh
berjuang, dunia ini bukan hanya ada penderitaan tapi juga lebih banyak
kebahagiaan. Kau ingat? Kau pernah mengajarkanku tentang ini, makanya aku bisa
bicara seperti ini.
Kau pernah memberiku kesempatan untuk
menghabiskan waktu bersama orang yang kucintai, aku mengerti itu. Bukan berarti
kau menjauhiku, hanya saja memberi kesempatan untuk membuat cerita. Kini aku
akan membalas kebaikanmu itu. Aku tau, di dunia ini butuh yang namanya
pengorbanan. Dan aku ikhlas kau menjalin kasih dan membuat sekian banyak cerita
bersama orang yang kau cintai.
Selamat berbahagia, Malaikatku. Selamat
mendapatkan dunia barumu, dunia yang lebih indah dari yang kau bayangkan. Aku
bahagia melihatmu bahagia...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar